Asam
Lemak Omega 9
dan
Manfaatnya bagi Kesehatan
Oleh:
Prof. DR. Ir. Tien R Muchtadi MS
Lemak/minyak merupakan salah satu
jenis makanan yang banyak digunakan untuk
diet sehari-hari. Hal ini disebabkan oleh
keuntungan lemak/minyak yang telah
dirasakan oleh segenap lapisan orang,
yaitu untuk meningkatkan cita rasa,
memperbaiki tekstur, dan pembawa flavor,
disamping fungsi fisiologis dan sebagai
sumber enerji.
Beberapa hal yang mempengaruhi
sifat-sifat minyak adalah asam lemak
penyusunnya, yaitu asam lemak jenuh (saturated
fatty acid/SFA) dan asam lemak tak
jenuh (unsaturated
fatty acid/UFA), yang terdiri atas
mono-unsaturated fatty acid (MUFA) dan
poly-unsaturated
fatty acid (PUFA) atau high
unsaturated fatty acid. Para ahli biokimia
dan ahli gizi lebih mengenalnya dengan
sebutan asam lemak tak jenuh Omega 3,
Omega 6 dan Omega 9.
Makan (diet sehat) erat kaitannya
dengan diet jantung sehat. Hal ini
disebabkan oleh isu penyakit jantung
koroner (PJK) yang merupakan salah satu
penyebab kematian peringkat atas di
Indonesia. Penyakit jantung banyak
kaitannya dengan pangan yang kita konsumsi.
Makanan yang sangat erat hubungnnya dengan
PJK antara lain serat makanan, protein dan
lemak/minyak. Di antara ketiga faktor
tersebut, konsumsi minyak dan lemak
merupakan faktor paling dominan dan
mendapat perhatian paling luas.
Studi pengaruh konsumsi minyak/lemak
terhadap PJK sudah dimulai pada
pertengahan 1950-an oleh Ahren, Kinsell,
Keys dan Hegsted serta formula Keys yang
disempurnakan oleh Hegsted. Sampai
pertengahan 1980-an kebanyakan penelitian
tentang saturated
fat menyatakan terjadinya peningkatan
kolesterol. Sebenarnya hal ini sangat
bergantung pada panjang rantai karbon,
terutama C12:0 dan C14:0, yang berasal
dari bahan bakunya. Sebaliknya, PUFA
mempunyai pengaruh yang dapat menurunkan
kolesterol sedangkan MUFA pada saat itu
belum mendapat perhatian khusus.
Perkembangan selanjutnya
menunjukkan ternyata mengkonsumsi PUFA
(Omega 6) yang berlebihan tanpa diimbangi
konsumsi Omega 3 memang dapat menurunkan
LDL kolesterol, akan tetapi HDL kolesterol
juga dilaporkan ikut mengalami penurunan.
Selain itu, keseimbangan antara Omega 3
dan Omega 6 terganggu, menyebabkan darah
mudah menggumpal. Kedua hal ini tidak
menguntungkan karena rasio LDL/HDL (Indeks
PJK) yang menurun dan mudahnya darah
menggumpal tidak dapat mencegah terjadinya
PJK, bahkan dapat memicu terjadinya PJK.
Pada 1985 Grundy dan 1987 Mensink
menyatakan bahwa
MUFA dapat menurunkan kolesterol (LDL-kolesterol)
sehingga MUFA mulai mendapat perhatian.
Salah satu jenis MUFA adalah Omega 9 (Oleat)
yang berdasarkan penelitian pada 1992,
1998, 1999 dan 2000, menyimpulkan bahwa Omega
9 memiliki daya perlindungan yang mampu
menurunkan LDL kolesterol darah,
meningkatkan HDL kolesterol yang lebih
besar dibanding Omega 3 dan Omega 6, lebih
stabil dibandingkan dengan PUFA. Hal
ini dapat dilihat dari masyarakat yang
hidup di kawasan Mediteranian yang jarang
ditemukan penderita jantung koroner karena
tingginya konsumsi Omega 9 dan Omega 3.
Sedangkan di kawasan barat (AS dan Eropa)
konsumsi lemaknya memiliki rasio 10:1
(Omega 6, Omega 3), yang dianggap tidak
sehat.
Berdasarkan penelitian dan kajian
epidemilogi di atas, mulai terjadi
perubahan pandangan dari konsumsi minyak
kaya Omega 6 dan Omega 3 dengan kembali
mengkonsumsi minyak yang berimbang yaitu
30% saturated fat, 40% MUFA (Omega 9) dan
30% PUFA (Omega 6 dan Omega 3).
Minyak sawit memiliki karakteristik
asam lemak utama penyusunnya terdiri atas
35 - 40% asam palmitat, 38 - 40%
oleat dan 6 - 10% asam linolenat serta
kandungan mikronutriennya seperti
karitenoid, tokoferol, tokotrienol dan
fitosterol. Di samping itu keunggulan
minyak sawit sebagai minyak makan adalah
tidak perlu dilakukan parsial hidrogenasi
untuk pembuatan margarin dan minyak goreng
(deep
frying fat), trans-fatty
acid rendah, dan unit cost murah.
Klaim produk
minyak sawit sebagai produk sehat
telah banyak dilakukan penelitian mendasar,
sehingga klaim unggulannya mempunyai dasar
yang kuat. Meskipun minyak sawit
mengandung MUFA (Omega 9) cukup tinggi,
kandungan asam lemak jenuhnya (palmitat)
juga tinggi yaitu 40%. Namun, asam
palmitat yang ada dalam minyak sawit
mempunyai nilai positif karena dapat
menurunkan kolesterol LDL.
Sebagai penutup, dapat disampaikan
bahwa asam lemak Omega 9 dapat mencegah
PJK (teruji secara laboratoris dan
epidemilogis), di mana penelitian yang
dilakukan selalu menggunakan minyak dengan
kadar asam lemak jenuh yang rendah (sekitar
5%). Ada hasil riset yang menyatakan bahwa
Omega 6 dalam bentuk tunggal memiliki
sifat negatif karena berkaitan dengan
peningkatan produksi eicosanoids
(stimulan pertumbuhan tumor pada binatang
percobaan). Namun dengan adanya
Omega 9 dan Omega 3, dalam proporsi
yang sesuai akan memiliki potensi
memblokir produk senyawa eicosanoids
tersebut, sehingga lagi-lagi peran Omega 9
dapat mencegah stimulasi negatif Omega 6.
(Media
Indonesia, 29 November 2000)